Cari Berita
Tips : hindari kata umum dan gunakan double-quote untuk kata kunci yang fix, contoh "sakura"
Maksimal 1 tahun yang lalu
Ekonomi & Bisnis
Bahlil Minta Tak Ragukan Produk Pertamina di Tengah Isu BBM Oplosan
CNN EKONOMI   | 13 jam yang lalu
3   0    0    0
Yogyakarta, CNN Indonesia --
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat tak perlu khawatir dengan produk PT Pertamina (Persero).
Hal itu disampaikan menyusul maraknya isu BBM oplosan usai pemberitaan terkait bahan bakar jenis Pertalite yang dioplos menjadi Pertamax.
"Kami menyarankan rakyat enggak perlu ragu karena sekarang kami tim juga lagi menurunkan ke lapangan untuk mengecek. Tapi, laporan yang sampai dengan hari ini yang kami terima bahwa antara apa yang dibeli dengan kualitasnya, itu sama," ujar Bahlil di Kompleks Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah, Kamis (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bahlil, tim dari Ditjen Migas akan memastikan masyarakat membeli BBM sesuai harga dan spesifikasi yang sesuai.
Bahlil mengatakan, kementeriannya hanya menjalankan fungsi pengawasan, sementara pengusahaan minyak dan gas bumi adalah tugas Pertamina.
Selain itu, dugaan mark up dalam kontrak pengiriman minyak mentah impor oleh Pertamina yang memicu isu BBM oplosan ini terjadi selama periode 2018-2023. Diketahui, saat itu Bahlil belum di Kementerian ESDM.
"Tapi bukan berarti kami tidak harus mendapatkan laporan, laporan tetap ada terus," imbuh Bahlil.
"Yang saya pahami, yang saya dapat laporan bahwa harga dan spesifikasi RON 90 92 98 atau 95 itu tidak ada masalah. Tapi kita menghargai proses hukum yang ada, kita akan ikuti terus dan seperti apa," terangnya.
Isu BBM oplosan mencuat di publik usai Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan 9 tersangka dugaan mark up dalam kontrak pengiriman minyak mentah impor periode 2018-2023 oleh Pertamina.
Dari sembilan tersangka, enam di antaranya merupakan pejabat Pertamina. Salah satunya, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan. Dalam hal ini, Riva diduga berbohong saat mengimpor minyak mentah di bawah RON 90, yang justru dicatat sebagai RON 92.
Sedangkan, tiga tersangka lainnya dari pihak swasta.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Harli Siregar menegaskan perkiraan kerugian mencapai Rp193,7 triliun hanya terjadi di 2023. Ada kemungkinan modus serupa yang merugikan negara juga terjadi selama 2018-2022, bahkan lebih besar. Kejagung masih akan mengeceknya.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri sendiri menjamin Pertamax dengan RON 92 maupun seluruh produk Pertamina lainnya telah memenuhi standar dan spesifikasi.
"Kami pastikan operasional Pertamina saat ini berjalan lancar dan terus mengoptimalkan layanan, serta menjaga kualitas produk BBM kepada masyarakat," kata Simon dikutip Antara, Kamis (27/2).
(sfr/kum)
komentar
Jadi yg pertama suka