Ekonomi & Bisnis
Penjualan Rumah Tapak Mulai dari Rp 600 Juta Laris pada 2025
TEMPO BISNIS
| Februari 13, 2026
11 0 0
0
JONES Lang LaSalle (JLL) Indonesia mencatat rumah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) seharga Rp 600 juta hingga Rp 1,3 miliar paling banyak terjual pada semester II 2025. Senior Director Strategic Consulting JLL Milda Abidin mengatakan pasar rumah tapak menunjukkan performa yang stabil dengan keseimbangan antara pasokan baru dan permintaan.
“Keterjangkauan terus menjadi daya tarik utama pasar, dengan segmen menengah ke bawah menunjukkan pertumbuhan penyerapan cukup tinggi, diikuti segmen menengah,” katanya di Jakarta pada Kamis, 12 Februari 2026.
Menurut data terbaru JLL Indonesia, hunian dengan harga tersebut mendominasi penjualan sebesar 48 persen. Kemudian disusul oleh hunian seharga kurang dari Rp 600 juta sebesar 27 persen, rentang harga Rp 1,3-2 miliar sebesar 12 persen, harga Rp 2-3 miliar sebanyak 8 persen, dan lebih dari Rp 3 miliar sebesar 5 persen.
Selama semester II 2025 tercatat peluncuran 3.800 unit baru dan jumlah permintaan sebanyak 3.700 unit. Tingkat penjualan dalam enam bulan tersebut sebesar 88 persen.
“Pada semester kedua 2025, pasar perumahan tapak menunjukkan performa yang stabil dengan keseimbangan antara pasokan baru dan permintaan,” ucap Milda.
Dia menganggap keterjangkauan terus menjadi daya tarik utama pasar, apalagi segmen menengah ke bawah menunjukkan pertumbuhan penyerapan cukup tinggi, diikuti segmen menengah. Dukungan pemerintah melalui perpanjangan insentif keringanan pajak meningkatkan daya beli dari sisi end-buyer.
“Pasar perumahan tapak Jabodetabek diprediksi terus berkembang, didorong oleh pembangunan infrastruktur dan kemudahan akses transportasi,” tutur Milda.
Senior Director of Capital Markets JLL Indonesia Herully Suherman mengatakan pengembang juga akan mempertimbangkan akses transportasi menuju perumahan yang akan dibangun. Tidak hanya pribadi, transportasi umum juga sangat dipertimbangkan.
Pembeli rumah pun dominan oleh kalangan menengah dan menengah ke atas yang butuh akses transportasi memadai. “Kenyamanan menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan strategi pengembangan mereka,” ujar Herully.
Menurut catatan JLL, kondisi pasar pendukung membaik seiring dengan turunnya suku bunga acuan dari 5,25 persen pada Juli menjadi 4,75 persen pada November 2025. Insentif pemerintah dinilai lebih menguntungkan pengguna akhir atau pembeli dibanding investor melalui pembiayaan bersubsidi dan pengurangan biaya transaksi.
komentar
Jadi yg pertama suka

