Ekonomi & Bisnis
Lewat Beyond Energy, Pertamina Dorong Ketangguhan Energi dan Komitmen Lingkungan
TEMPO BISNIS
| Februari 13, 2026
11 0 0
0
INFO TEMPO - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri memaparkan komitmen Pertamina Beyond Energy pada ajang Green Leadership PROPER 2024-2025. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), di Jakarta, Selasa 10 Februari 2026.
Simon mengatakan Pertamina Beyond Energi akan mempertegas posisi perusahaan sebagai pemimpin dalam transisi energi hijau dan ekonomi sirkular untuk ketahanan energi yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Selain itu, langkah ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indah dan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah).
“Prinsip keberlanjutan Pertamina diharapkan dapat menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045,“ kata Simon.
Pertamina menerapkan strategi pertumbuhan ganda (Dual Growth Strategy), yakni memaksimalkan bisnis eksisting Pertamina untuk memenuhi keamanan energi nasional saat ini. Di samping itu, Pertamina juga akan membangun bisnis rendah karbon atau energi hijau, untuk mendorong percepatan transisi energi dan ekosistemnya sebagai energi masa depan.
Sejalan dengan strategi tersebut, Simon berujar, Pertamina juga mengutamakan upaya dekarbonisasi. Seperti pengembangan ekosistem green hydrogen, peningkatan energi baru dan terbarukan, serta proyek Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) dengan potensi penurunan emisi hingga 980 ribu ton COe.
Pertamina juga melakukan inovasi melalui pengembangan produk-produk ramah lingkungan, seperti BBM rendah sulfur yang selaras dengan Peta Jalan Kementerian ESDM, serta Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai terobosan bahan bakar penerbangan berbahan baku minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO). “Ini adalah wujud kepemimpinan Pertamina dalam orkestrasi transisi energi nasional. Berbagai inisiatif menurunkan emisi transportasi sekaligus mendorong standar BBM yang lebih bersih di Indonesia,” ujar Simon.
Simon mengatakan, tantangan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, sehingga perlu solusi berkelanjutan dan berdampak langsung bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan pengelolaan sampah nasional dalam 151 program Pertamina yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, mulai dari komunitas perkotaan, pedesaan, hingga pesisir.
“Salah satu inovasi unggulan Pertamina adalah WASTECO atau Waste to Energy for Community di Balikpapan. Sampah organik diolah menjadi gas metana, dialirkan langsung ke rumah warga dan UMKM di sekitar TPA Manggar untuk kebutuhan memasak, sehingga memberikan dampak nyata bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Pertamina juga telah mengembangkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB) di 252 titik lokasi, yang mengintegrasikan pemanfaatan energi baru terbarukan dengan penguatan ekonomi desa. Melalui program DEB, pengelolaan sampah di tingkat masyarakat ditransformasikan menjadi sumber daya produktif, sekaligus membangun kemandirian energi dan ekonomi.
Di sisi lain, Pertamina menegaskan komitmennya dalam aspek kemanusiaan. Menurut Simon, setiap bencana harus dijawab dengan kehadiran nyata. Selama tahun 2025, Pertamina telah menyalurkan bantuan kebencanaan ke lebih dari 70 Kabupaten dan Kota di seluruh Indonesia.
Pertamina bergerak menembus keterbatasan untuk menyalurkan energi, seperti Bright Gas, BBM dan Avtur tetap tersedia untuk kebutuhan dasar dan evakuasi, hingga mengalirkan air bersih yang sangat dinantikan para pengungsi. “Sinergi antara program TJSL Pertamina yang berdampak dan bisnis, tidak hanya menyelamatkan lingkungan saat ini, tetapi juga membangun benteng pertahanan masyarakat agar tetap berdaya saat bencana melanda,” kata dia. (*)
komentar
Jadi yg pertama suka

