Ekonomi & Bisnis
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100 per Barel
TEMPO BISNIS
| Maret 2, 2026
3 0 0
0
HARGA minyak dunia diprediksi menembus level US$ 100 per barel bila tensi geopolitik terus memanas di Timur Tengah. Hingga perdagangan Senin siang 2 Maret 2025 harga minyak mentah Brent terpantau US$ 79 per barel, naik dari penutupan perdagangan Sabtu, US$ 72,8 per barel.
Mengutip data Trading Economics kontrak berjangka minyak mentah WTI berada di level US$ 72,3 per barel melonjak dibanding sebelumnya, US$ 67,2 per barel. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan kenaikan harga minyak merupakan konsekuensi yang tak bisa dihindari dari perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Bila agresi terus terjadi, harga minyak bakal terus melambung. “Kalau misal meluas, saya perkirakan bisa mencapai US$ 100 per barel,” kata Fahmy, Senin, 2 Maret 2025.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 telah memicu aksi balasan. Kondisi konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Diberitakan Daily Mail, 2 Maret 2026, Donald Trump mengungkap kemungkinan perang dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu ke depan.
Blokade Selat Hormuz oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menimbulkan kekhawatiran terhadap rantai pasok minyak dan gas global. Fahmy menyatakan bila lalu lintas perdagangan minyak dunia itu ditutup, logistik terganggu dan imbasnya harga minyak global bakal naik.
Menurut dia, harga minyak sempat menyentuh US$ 100 per barel saat perang besar terjadi antara Rusia dan Ukraina. Berdasarkan data historis, minyak mentah sempat menembus US$ 100 per barel pada 2022 ketika invasi Rusia ke Ukraina. “Tak menutup kemungkinan itu akan terjadi lagi,” ucapnya.
Indonesia sebagai negara pengimpor terbesar komoditas minyak bakal merasakan dampaknya bila harga minyak mencapai titik tersebut. Fahmy menyatakan BBM non-subsidi seperti Pertamax ke atas tak bakal terdampak signifikan. Karena harganya mengikuti mekanisme pasar.
Namun lonjakan harga minyak dunia bisa menimbulkan dilema bagi pemerintah yang menanggung BBM subsidi seperti pertalite dan solar. Karena bila harga di pasaran tak dinaikkan, maka uang negara untuk menanggung subsidi bakal lebih besar. Sedangkan bila harga dinaikkan maka akan memicu inflasi.
“Karena perangnya (antara AS-Israel melawan Iran) sangat sengit seperti ini. Kalau ini meluas bisa tambah parah harga minyak dunia,” ujar Fahmy.
komentar
Jadi yg pertama suka

