Cari Berita
Tips : hindari kata umum dan gunakan double-quote untuk kata kunci yang fix, contoh "sakura"
Maksimal 1 tahun yang lalu
Ekonomi & Bisnis
Menakar Tuah Bank Emas Genjot Ekonomi RI seperti Mimpi Prabowo
CNN EKONOMI   | 13 jam yang lalu
3   0    0    0
Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Prabowo Subianto meresmikan layanan bank emas atau bullion bank pertama di Indonesia. Ia berharap bank emas dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp245 triliun serta membuka 1,8 juta lapangan kerja baru.
"Kita harapkan bahwa ini akan meningkatkan produksi domestik bruto kita, kalau tidak salah bisa menambah Rp245 triliun, kemudian akan membuka lapangan kerja 1,8 juta baru," kata Prabowo pada peluncuran layanan bank emas Indonesia di The Gade Tower, Jakarta, Rabu (26/2).
Prabowo mengatakan bank emas akan membuat pengelolaan emas di Indonesia semakin baik. Menurutnya, selama ini emas Indonesia ditambang lalu dikirim ke luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi selama ini kita tak punya bank untuk emas kita. Enggak ada di Indonesia. Jadi emas kita banyak ditambang dan mengalir ke luar negeri. Dan kita ingin sekarang punya bank khusus emas di Indonesia," katanya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion. Beleid itu menyebut bullion bank alias bank emas adalah kegiatan usaha berkaitan dengan emas yang dilakukan oleh lembaga jasa keuangan (LJK).
Kegiatan yang dimaksud yakni simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, penitipan emas, dan kegiatan usaha lainnya yang dilakukan oleh LJK. LJK yang menyelenggarakan layanan bank emas harus mendapatkan izin dari OJK.
Pada 6 Januari 2025, OJK memberi izin PT Pegadaian menjadi bank emas pertama di Indonesia. Sekitar sebulan berselang, Bank Syariah Indonesia (BSI) juga mendapatkan izin sebagai bank emas.
Lantas bagaimana dampak bank emas bagi perekonomian RI? Bagaimana bank emas bisa mendongkrak PDB dan menciptakan lapangan kerja?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita mengatakan secara prinsip bank emas dengan bank konvensional sebenarnya sama. Hal yang membedakan hanya bank konvensional menggunakan uang fiat (fiat money) sebagai aset utamanya, sedangkan bank emas menggunakan emas sebagai asetnya.
Namun, bank emas akan menggunakan sistem yang sama dengan yang digunakan bank konvensional hari ini yakni Fractional Reserve System atau perbankan cadangan fraksional, yakni sistem perbankan yang mewajibkan bank untuk hanya menyimpan sebagian dari simpanan nasabah sebagai cadangan, sedangkan sisanya digunakan untuk memberikan pinjaman kepada nasabah lain.
Dengan sistem ini, bank emas bisa menerima pinjaman dalam bentuk emas dan menerbitkan aset keuangan dengan jaminan asetnya yaitu emas. Misalnya nasabah menaruh satu ton emas di bank emas, ia akan diberi surat tanda kepemilikan emas.
Surat itu menjadi aset keuangan yang bisa digadaikan atau jadikan agunan untuk mendapatkan cash sebagai modal. Dari situ lah peran bank emas bisa meningkatkan PDB.
"Dengan Fractional Reserve System itu, bullion bank mempunyai kekuatan kapasitas keuangan yang jauh lebih besar ketimbang emas yang dia pegang. Sehingga kalau menjalankan Fractional Reserve System ini, (bank) mengubah (emas) menjadi financial asset dan financial asset ini bisa digunakan menjadi modal bagi nasabahnya. Itu bisa menggerakkan ekonomi," katanya.
Begitu juga dengan bank, sambungnya, kemudian bisa menjadikan emas fisik yang ditaruh nasabah sebagai underlying menerbitkan aset keuangan yang bisa dipinjamkan dan dijual ke pihak ketiga agar dapat cuan.
"Jadi dengan logika sistem bank ini, maka emas di bank emas akan bisa menjadi aset untuk menghasilkan modal berkali lipat. Modal tersebut bisa dipakai untuk pihak yang membutuhkan dan dipakai di sektor produktif. Dari situlah bank emas bisa berkontribusi pada PDB," katanya.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bank emas bisa memperkuat stabilitas ekonomi dan cadangan devisa dengan beberapa implikasi.
Pertama, Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor emas terbesar di Asia Tenggara, terutama dari Singapura. Dengan adanya bank emas, diharapkan terjadi penurunan impor emas karena kebutuhan emas dalam negeri dapat dipenuhi dari sumber domestik yang dikelola secara optimal melalui bank emas. Hal ini akan mengurangi tekanan pada cadangan devisa yang sebelumnya digunakan untuk impor emas.
Kedua, dengan memonetisasi emas domestik yang selama ini tidak diperdagangkan, dengan total berat 1.800 ton, bank emas dapat meningkatkan likuiditas pasar keuangan Indonesia.
"Emas yang dimonetisasi dapat menjadi basis bagi instrumen keuangan baru, termasuk derivatif emas dan produk investasi berbasis emas yang meningkatkan kedalaman pasar keuangan," katanya.
Sementara itu, Ekonom Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Shofie az Zahra mengatakan bank emas diperkirakan bisa mendongkrak PDB dan menambah lapangan kerja karena peningkatan aktivitas keuangan, investasi emas, serta penguatan industri terkait.
Bank emas, sambungnya, bisa meningkatkan inklusi keuangan di mana masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki akses ke layanan perbankan konvensional dapat mulai menabung dalam bentuk emas, yang dikenal lebih stabil dibandingkan uang tunai dalam menghadapi inflasi.
Bank emas juga bisa meningkatkan permintaan emas di dalam negeri, yang bisa berdampak langsung pada pertumbuhan industri pertambangan emas, manufaktur perhiasan, serta industri logistik dan penyimpanan emas. Dengan begitu lapangan pekerjaaan juga akan terbuka lebih luas.
"Kalau permintaan emas naik, pertumbuhan industri emas juga bisa naik. Penciptaan lapangan kerja dan potensi ekonominya dari sana," katanya.
Namun, Shofie melihat terdapat tantangan yang harus diwaspadai, terutama terkait regulasi, transparansi, dan risiko spekulasi harga emas. Jika regulasi tidak cukup ketat, ada potensi terjadinya fraud, pengelolaan emas yang tidak akuntabel, serta risiko likuiditas di mana jumlah emas fisik yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah yang diklaim oleh masyarakat.
Oleh karena itu, pengawasan yang ketat sangat diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan investor global sehingga bank emas benar-benar berkontribusi positif bagi perekonomian nasional.
"Untuk mewujudkan proyeksi ini, regulasi yang jelas, transparansi, dan dukungan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan agar bank emas benar-benar bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian," katanya.

komentar
Jadi yg pertama suka